Jumat, 05 April 2019

Pendaftaran Siswa Baru

Dalam rangka meningkatkan sumber daya manusia kelautan dan perikanan, maka Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Republik Indonesia membuka kesempatan kepada putra/putri Warga Negara Indonesia untuk mengikuti pendidikan di satuan pendidikan lingkup KKP, yang meliputi satuan pendidikan tinggi dan satuan pendidikan menengah.
Satuan pendidikan tinggi terdiri dari Sekolah Tinggi Perikanan, 9 Politeknik KP dan Akademi Komunitas KP. Adapun satuan pendidikan menengah terdiri dari 6 Sekolah Usaha Perikanan Menengah (SUPM).
Seleksi penerimaan peserta didik dilaksanakan melalui jalur umum dan jalur khusus. Jalur umum adalah sistem seleksi penerimaan peserta didik pada satuan pendidikan lingkup KKP bagi pendaftar yang berasal dari masyarakat umum. Jalur khusus adalah sistem penerimaan peserta didik pada satuan pendidikan lingkup KKP bagi pendaftar yang berasal dari anak pelaku utama (nelayan, pembudidaya ikan, pengolah ikan, dan petambak garam). KKP membuka kesempatan kepada anak pelaku utama untuk mengikuti pendidikan pada satuan pendidikan lingkup KKP pada tahun akademik/pelajaran 2019/2020 sebanyak 50% dari total jumlah yang diterima.
untuk Satuan Pendidikan Menengah (Sekolah Usaha Perikanan Menengah)
1. SUPM Kotaagung (Lampung)
2. SUPM Tegal (Jawa Tengah)
3. SUPM Pontianak (Kalimantan Barat)
4. SUPM Bone (Sulawesi Selatan)
5. SUPM Sorong (Papua Barat)
6. SUPM Kupang (Nusa Tenggara Timur)
Satuan Pendidikan Menengah (Sekolah Usaha Perikanan Menengah/SUPM) Satuan pendidikan menengah lingkup KKP menyelenggarakan pendidikan kejuruan pada jenjang pendidikan menengah sebagai lanjutan dari sekolah menengah pertama. Satuan pendidikan menengah lingkup KKP terdiri dari 6 SUPM (Sekolah Usaha Perikanan Menengah).
Syarat-Syarat Pendaftaran
1. Jalur Umum
a. Putra/i Warga Negara Indonesia;
b. Memiliki ijazah SLTP/sederajat atau Surat Keterangan Hasil Ujian Nasional (SKHUN)/Surat Keterangan Peserta UN;
c. Memiliki Kartu Keluarga dan Akte Kelahiran;
d. Umur tidak lebih dari 18 tahun pada tanggal 1 Juli 2019;
e. Belum pernah menikah, sanggup tidak menikah selama mengikuti pendidikan dan tidak dalam keadaan hamil;
f. Berbadan sehat jasmani dan rohani, tidak cacat fisik dan mental, tidak bertato, tidak juling, dan tidak bertindik (khusus putra);
g. Berkelakuan baik;
h. Tinggi badan untuk putra minimal 155 cm dan untuk putri minimal 150 cm dengan berat badan yang proporsional;
i. Tidak berkaca mata/lensa kontak pada kompetensi keahlian Nautika Kapal Penangkap Ikan dan Teknika Kapal Penangkap Ikan, adapun pada kompetensi keahlian lain diperbolehkan berkacamata dengan ukuran maksimal minus/plus/silinder 0,25 (nol koma dua puluh lima);
j. Tidak buta warna parsial maupun total;
k. Bebas dari penyalahgunaan narkoba;
l. Bersedia mengikuti tahapan seleksi penerimaan.
2. Jalur Khusus
a. Memenuhi persyaratan sebagaimana jalur umum;
b. Anak Pelaku Utama bidang kelautan dan perikanan yang dibuktikan dengan dokumen relevan.
Kunjungi dan daftar di laman kami www.pusdik.kkp.go.id/psb

Rabu, 19 Juli 2017

13 permintaan anak yang mungkin tidak pernah diucapkan


1. Cintailah aku sepenuh hatimu.

2. Jangan marahi aku di depan orang banyak.😡

3. Jangan bandingkan aku dengan Kakak atau adikku atau orang lain.👐

4. Ayah Bunda jangan lupa, aku adalah fotocopy-mu.

5. Kian hari umurku kian bertambah, maka jangan selalu anggap aku anak kecil.🙇

6.  Biarkan aku mencoba, lalu beritahu aku bila salah.🏃

7. Jangan ungkit-ungkit kesalahanku.🙈

8. Aku adalah Ladang Pahala bagimu.🎁

9. Jangan memarahiku dengan mengatakan hal-hal buruk, bukankah apa yang keluar dari mulutmu sbgai orang tua adalah doa bagiku?😔

10. Jangan melarangku hanya dengan mengatakan "JANGAN" tapi berilah penjelasan kenapa aku tidak boleh melakukan sesuatu.😇

11. Tolong ayah ibu, jangan rusak mentalku dan pemikiranku dengan selalu kau bentak-bentak aku setiap hari.

12. Jangan ikutkan aku dalam masalahmu yang tidak ada kaitannya denganmu. Kau marah sama yang lain, aku imbasnya.

13. Aku ingin kau sayangi cintai karena engkaulah yang ada dikehidupanku dan masa depanku.

"SEMOGA BERMANFAAT, BAGI PARA ORANG TUA"

Jumat, 10 Februari 2017

ADAB DALAM MAJELIS



Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, 
Bismillahirrohmanirrohiim,
Ikhwah Fillah, sangat penting bagi kita sebagai umat Islam untuk mengenal beberapa adab di dalam Islam. Karena adab merupakan salah satu etika di dalam Islam, yang juga menunjukkan bahwa kita umat Islam adalah umat yang teratur, tertata, dan sangat peduli terhadap etika. Salah satunya adalah Adabul Majlis. Adabul Majlis berikut ana sampaikan berdasarkan ringkasan dari buku Etika Seorang Muslim)*, terbitan Darul Haq Bab Etika Majlis hal 39 – 43.
  1. Memberi Salam saat masuk maupun saat keluar majlis, Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “Apabila salah seorang kamu sampai di suatu majlis,maka hendaklah memberi salam, lalu jika dilihat layak baginya duduk maka duduklah ia. Kemudian jika bangkit (akan keluar) dari Majlis hendaklah ia memberi salam pula. Bukanlah yang pertama lebih berhak daripada yang selanjutnya (HR Abu Daud dan At-Tirmidzi, dinilai sahih oleh Albani)
  2. Duduk di tempat yang masih tersisa Jabir bin Samurah telah menuturkan : “Adalah kami, apabila datang kepada Nabi SAW maka masing-masing kami duduk d tempat yang tersedia di Majlis (HR. Abu Daud, dishahihkan oleh Albani)
  3. Jangan Sampai memindahkan orang lain dari tempat duduknya kemudian mendudukinya Ibnu Umar RA. telah meriwayatkan bahwa sesungguhnya Nabi SAW telah bersabda “Seseorang tidak boleh memindahkan orang lain dari tempat duduknya, lalu ia menggantikannya, akan tetapi berlapanglah dan perluaslah (Muttaffaq Alaih)
  4. Tidak duduk di tengah-tengah halaqah (lingkaran majlis)
  5. Tidak duduk di antara dua orang tanpa seizin mereka Rasulullah SAW bersabda “Tidak Halal bagi sesorang memisah di antara dua orang kecuali seizin keduanya”(HR. Ahmad, dishahihkan oleh Albani).
  6. Tidak menempati tempat duduk orang lain yang keluar sementara waktu untuk suatu keperluan. Nabi SAW bersabda “Apabila seseorang di antara kamu bangkit (keluar) dari tempat duduknya, kemudian kembali, maka ia lebih berhak menempatinya (HR. Muslim)
  7. Tidak berbisik berduaan dengan meninggalkan orang ketiga Ibnu Mas’ud RA menuturkan : Rasulullah telah bersabda “Apabila kamu tiga orang maka dua orang tidak boleh berbisik-bisik tanpa melibatkan yang ketiga sehingga kalian bercampur baur dengan orang banyak, karena hal tersebut dapt membuatnya sedih” (Muttafaq ‘Alaih)
  8. Tidak banyak tertawa Rasulullah SAW bersabda : “Janganlah kamu memperbanyak tawa, karena banyak tawa itu mematikan hati” (HR. Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Albani)
  9. Menjaga pembicaraan yang terjadi dalam Majlis Rasulullah SAW bersabda “Apabila sesorang membicarakan suatu pembicaraan kemudian ia menoleh, maka itu adalah amanat” (HR Tirmidzi, dinilai hasan oleh Albani)
  10. Tidak melakukan hal yang bertentangan dengan perasaan orang lain (ex:bersendawa atau menguap)
  11. Tidak memata-matai, Rasulullah SAW bersabda “ Janganlah kamu mencari-cari atau memata-matai orang “ (Mutaffaq Alaih)
  12. Menutup Doa dengan doa Kafaratul Majlis, Subahanakallahumma wabihamdik, Asyhaduanla ilaha illa ant, Astaghfiruka, waatubu ilaik (HR. Ahmad dan Tirmidzi, disahihkan oleh Albani) *) Di dalam buku ini terdapat beragam sunnah yag menyangkut etika dalam kehidupan sehari-hari, insya Allah .
Wassalamualaikum wr wb..

Senin, 12 September 2016

ISTIQOMAH, ISTIGHFAR DAN ISTIKHARAH

ISTIQOMAH
Sering kita mendengarkan kalimat istiqomah dalam setiap menjalankan suatu kegiatan, khususnya dalam masalah ibadah dan pekerjaan.
Misalkan saja ada seorang muallaf (orang baru masuk islam) yang mulai beribadah sholat 5 waktu, akhirnya ada temannya yang berkata “Semoga istiqomah bro ibadahnya…”.
Atau ketika sedang memulai suatu pekerjaan baru, kemudian teman-temannya berkata “keep istiqomahnya dalam berusaha ya… semangat!”. Dan masih banyak lainnya.
Lalu dalam pandangan islam, apa itu istiqomah? Kata istiqomah memiliki arti Tegak, lurus, atau dalam bahasa lainnya yaitu konsisten.
Para Ulama yang Memberikan Definisi dari Kata Istiqomah
·    Abu Bakar Ash-Shiddiq R.A: Istiqomah itu tidak menyekutukan Allah dengan apapun juga.
·         Umar bin Khattab R.A: Istiqomah itu hendaknya untuk bertahan dalam satu perintah atau larangan dan tidak berpaling dari yang lain layaknya seekor musang.
·         Utsman bin Affan R.A: Istiqomah artinya ikhlas.
·         Ali bin Abi Thalib R.A: Istiqomah adalah melaksanakan suatu kewajiban.
·         Dari Ibnu Abbas R.A: Istiqomah itu memiliki 3 macam arti: Istiqomah dengan lisan (Bertahan terus dalam membaca Syahadat), istiqomah dengan hati (Melakukan segala sesuatu dengan niat dan jujur) dan istiqomah dengan jiwa (Selalu melaksanakan ibadah dan ketaatan kepada Allah secara terus-menerus tanpa terputus).
·         Dari Ar Raaghib: Istiqomah itu tetap di atas jalan yang lurus.
·         Dari An Nawawi: Tetap dalam ketaatan (Kitab Riyadusshalihin). Jadi istiqomah mengandung pengertian bahwa: “Tetap dalam ketaatan dan di atas jalan yang lurus dalam beribadah kepada Allah SWT”.
·         Dari Mujahid: Istiqomah adalah komitmen terhadap kalimat syahadat dan tauhid sampai bertemu dengan Allah ‘Azza wa Jalla.
·         Dari Ibnu Taymiah: Istiqomah dalam mencintai dan beribadah kepada Allah tanpa kearah menoleh ke kanan kiri.

Dalam sebuah ayat Al-Qur’an, Allah berfirman:

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami adalah Allah kemudian mereka istiqomah pada pendirian mereka, maka malaikat turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih dan bergembiralah kamu (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. (Q.S Fushilat: 30)
Menurut tafsir ‘Aisar, yang dimaksud dari istiqomah ialah mereka yang betul-betul yakin kebenaran agama islam, dengan tidak menukar dengan kepercayaan lain.Serta konsisten dalam menjalankan ibadah dan menjauhi kemungkaran, maka malaikat akan turun 2 kali kepadanya.
Ayat ini diperkuat dengan sebuah hadits, seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW: “Ya Rasulullah SAW tolong ajarkan sesuatu kepadaku yang paling penting dalam islam dan saya tidak akan bertanya lagi kepada siapapun.
Nabi menjawab: “Katakanlah aku beriman kepada Alah, kemudian istiqomah (Konsisten menjalankan perintahnya dan mejauhi larangan).
Orang yang istiqomah selalu kokoh dalam menjaga aqidahnya dan tidak akan goyang keimanannya dalam menjalani tantangan hidup. Walaupun kantong kering ataupun tebal, Dihadapi oleh bermacam-macam hal yang haram, dicaci maki dan dipuji, sekali sudah konsisten maka tidak akan ada yang mampu meroboh keistiqomahannya.

Intisari dari Arti Istiqomah

Jadi yang bisa kita dapatkan dari yang itu semua adalah, istiqomah memiliki arti konsisten dalam melakukan kebaikan. Teguh dalam satu pendirian dan tidak akan tergoyahkan oleh berbagai macam rintangan dalam mendapatkan ridho Allah Ta’ala.
Jangan sampai salah dalam mengartikan kata istiqomah ke dalam suatu yang buruk, suatu hal yang buruk janganlah di dukung dan diberi semangat. Cukuplah untuk orang-orang yang berusaha melakukan kebaikan dan diberikan semangat berupa kata konsisten.

ISTIGHFAR

Istighfar atau Astaghfirullah adalah tindakan meminta maaf atau memohon keampunan kepada Allah yang dilakukan oleh umat Islam. Hal ini merupakan perbuatan yang dianjurkan dan penting di dalam ajaran Islam. Tindakan ini secara harfiah dilakukan dengan mengulang-ulang perkataan dalam bahasa Arab astaghfirullah, yang berarti "Saya memohon ampunan kepada Allah".
Seorang Muslim menyebut perkataan ini beberapa kali, bukan saja ketika meminta ampun dari Allah sebagai doa, malah juga ketika dia sedang berbicara dengan orang lain. Apabila seorang Muslim hendak mencegah dari melakukan perbuatan yang salah, atau saat ia mau membuktikan bahwa dia tidak bersalah pada satu peristiwa dia menggunakan pernyataan ini. Setelah salat, seorang Muslim dianjurkan melafalkan perkataan ini sebanyak tiga kali.
Istighfar dalam filosofi Islam bermakna seseorang yang selalu memohon ampunan atas kesalahan dan terus berusaha untuk menaati perintah Tuhan dan tidak melanggarnya. Dalam Islam, makna Istighfar tidak terletak pada pengucapannya, namun pada seberapa dalam seseorang yang beristighfar memaknai dan menghayati apa yang ia ucapkan, dalam konteks yang lebih jauh lagi, agar ia terus mengingat Tuhan di saat ia tergoda untuk melakukan perbuatan dosa, dan apabila telah melakukan dosa, maka istighfar adalah titik baginya untuk bertekad tidak mengulangi perbuatannya.
Rasulullah bersabda, ”Iblis berkata kepada Tuhannya, ’Dengan keagungan dan kebenaran-Mu aku tak akan berhenti menyesatkan Bani Adam selama mereka masih bernyawa. ‘Lalu dijawab oleh Allah,’ Dengan keagungan dan kebenaran-Ku, (maka) Aku (Allah) tak akan berhenti mengampuni mereka selama mereka (tetap) beristighfar.’” (HR. Ahmad)
Istighfar merupakan permohonan ampunan dari manusia selaku hamba yang memiliki sifat ketergantungan kepada Allah. Permohonan ini ditujukan semata-mata ditujukan kepada Allah, tidak kepada yang lainnya; dan bersifat langsung tanpa melalui perantara, sehingga merupakan permohonan ampunan yang amat murni. Artinya, permohonan ampunannya itu tumbuh dari hati nuranunya untuk mencapai hubungan yang bersih murni dengan Allah dan karena ketakutannya akan ditimpa cobaab ataupun nasib buruk, karena menyadari dirinya berdosa kepada Allah, padahal ia telah meyakini sekali bahwa bahagia dan celakanya ada di ujung jari Allah, sedangkan Allah sangat mudah untuk menjungkirbalikkan nasib dirinya, kecuali jika Allah mengampuninya.
Untuk itulah ia beristighfar, memohon ampunan.Lau apakah dengan istighfar sama dengan bertobat? Dalam hal ini tobat mempunyai kedudukan yang lebih tinggi. Dalam bertobat, seseorang terikat untuk melaksanakan syarat-syarat pertobatan; bila ia melanggarnya, maka tobatnya dengan sendirinya menjadi tertolak.
Istighfar merupakan bagian dari tobat atau pertobatan. Meski demikian, istighfar memiliki nilai yang tinggi diantara amalan-amalan ibadah, khususnya dalam kelompok ibadah dan zikir. Beristighfar haruslah diniatkan untuk mendapatkan ampunan Allah, tidak hanya untuk dosa pada saat ini, tetapi juga dosa masa lalu serta dosa masa mendatang kalu memang ada.
Ini merupakan kewaspadaan batin,karena dosa kesombongan meski seberat debu ternyata telah menyebabkan orang tidak masuk surga, lebih-lebih bila dalam diri kita masih banyak bertumpuk berbagai macam dosa.Istighfar ibarat sabun pencuci dosa. Dengan membiasakan istighfar, maka setiap ada dosa sedikit, dosa itu dapat segera terhapus sebelum terlanjur berkarat dalam hati dan jiwa serta menjadi noda yang sulit hilang yang senantiasa terbawa kemana pun ia pergi seumur hidupnya.

ISTIKHARAH
Istikharah merupakan selalu memohon petunjuk kepada Allah SWT. Dalam setiap langkah dan penuh pertimbangan dalam setiap keputusan. Setiap orang mempunyai kebebasan untuk berbicara dan melakukan suatu perbuatan. Akan tetapi menurut islam, tidak ada kebebasan yang tanpa batas, dan batas-batas tersebut adalah aturan-aturan Agama. Maka seorang muslim yang benar, selalu berfikir berkali-kali sebelum melakukan tindakan atau mengucapkan sebuah ucapan serta ia selalu memohon petunjuk kepada Allah.
Nabi Muhammad SAW. bersabda: "Barang siapa yang beriman kepada Allah SWT. dan hari akhir., maka berkatalah yang baik atau diamlah (HR. Al-bukhari dan muslim dari Abu Hurairah)
Orang bijak berkata "think today and speak tomorrow" (berfikirlah hari ini dan berbicaralah besok). Kalau ucapan itu tidak baik apalagi sampai menyakitkan orang lain maka tahanlah, jangan di ucapkan, sekalipun menahan ucapan tersebut terasa sakit. Tapi apabila ucapan itu benar dan baik maka katakanlah jangan ditahan sebab lidah kita menjadi lemas untuk bisa meneriakkan kebenaran dan keadilan serta menegakkan amar ma'ruf nahi mungkar.
Mengenai kebenaran ini, melainkan Jibril pernah datang kepada Nabi Muhammad SAW. untuk memberikan rambu kehidupan, Beliau bersabda :
"Jibril telah datang kepada ku dan berkata: Hai Muhammad hiduplah sesukamu, tapi sesungguhnya engkau suatu saat pasti akan mati, cintailah apa yang engkau sukai tapi engkau suatu saat pasti berpisah juga dan lakukanlah yang engkau inginkan sesungguhnya semua itu ada balasanya (HR. Baihaqi dan Jabir)."
Sabda Nabi Muhammad SAW Ini semakin penting untuk diresapi ketika akhir-akhir ini dengan dalih kebesaran, banyak orang berbicara tanpa logika dan data yang benar dan bertindak sesukanya tanpa mengindahkan etika agama. Para pakar barangkali untuk saat-saat ini, lebih bijaksana untuk banyak mendengar daripada berbicara yang kadang kadang justru membingungkan masyarakat. Kita  memasyarakatkan Istikharah dalam segala langkah kita, agar kita benar benar bertindak secara benar dan tidak menimbulkan kekecewaan di kemudian hari.
Nabi Muhammad SAW. bersabda: "Tidak rugi orang yang beristikharah, tidak akan kecewa orang yang bermusyawarah dan tidak akan miskin orang yang hidupnya hemat (HR. Thabrani dan Anas)"




Senin, 02 Mei 2016

Peringatan Hardiknas Tahun 2016 di Kabupaten Bone

Bupati Bone Dr.H.Andi Fahsar Mahdin Padjalangi,M.Si. selaku Irup pada Peringatan Hari Pendidikan Nasional yang dilaksanakan di Lapangan Merdeka Watampone, Senin 2 Mei 2016. Hadir wakil Bupati Bone, Forkopimda Bone, Ketua TP PKK Kabupaten Bone, TNI/Polri, para pimpinan SKPD, Guru, Pengawas, unsur kependidikan, pelajar, Mahasiswa, dan pramuka se-Kabupaten Bone.

Selama satu bulan penuh berbagai kegiatan lomba yang telah dilaksanakan di Kabupaten Bone baik lomba-lomba seni dan olahraga maupun kegiatan pendidikan lainnya dengan melibatkan unsur Pendidik, PAUD dan Pelajar mulai Taman Kanak-Kanak hingga Perguruan Tinggi di Kabupaten Bone.

Bupati Bone Dr.H.Andi Fahsar Mahdin Padjalangi,M.Si. saat membacakan sambutan seragam Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Prof. Mohamad Nasir, mengatakan bahwa Tema Peringatan hari Pendidikan Nasional Tahun 2016 adalah ' Ayo Kerja, Inovatif, dan Kompetitif "

Dikatakan bahwa Tanggal 2 Mei yang kita peringati sebagai Hari Pendidikan Nasional merupakan hari lahir Ki Hajar Dewantara, seorang tokoh pendidikan Indonesia yang pemikirannya menjadi benih bertumbuhnya pendidikan Indonesia. Ki Hajar Dewantara mengumandangkan pemikirannya tentang pendidikan Indonesia, yaitu Ing Ngarso Sing Tulodo, Ing Madya Mangun Karso dan Tut Wuri Handayani, dan menerapkannya dalam sekolah Taman Siswa.

Inisiatif tersebut menjadi awal bentuk reformasi pendidikan di Indonesia. Jika Ki Hajar Dewantara berfokus pada pendidikan yang berbasiskan pada guru, maka tokoh pendidikan Indonesia lainnya, yaitu Moh. Syafei menggagas pendidikan keterampilan yang sarat dengan praktek melalui pendirian pusat pendidikan INS Kayu Tanam di Sumatera Barat, yang kemudian menjadi dasar pengembangan sekolah vokasi dan kejuruan di Indonesia.

Apa yang telah dilakukan oleh Moh. Syafei pun merupakan salah satu bentuk awal dari reformasi pendidikan di Indonesia. Peserta upacara yang dimuliakan, HARDIKNAS kita peringati bukan hanya untuk mengenang jasa Ki Hadjar Dewantara sebagai Bapak Pendidikan Indonesia dan seluruh pejuang pendidikan yang patut kita kenang dan hargai. Namun, juga untuk kita merefleksikan tentang beragam upaya yang telah dan sedang kita lakukan dalam menjalankan berbagai program untuk meningkatkan kualitas pendidikan tinggi Indonesia.

Perjalanan tersebut menjadi tonggak untuk upaya kita selanjutnya dalam memberikan layanan pendidikan tinggi berkualitas bagi putra putri bangsa, menciptakan SDM IPTEK Indonesia yang terampil, dan meningkatkan kapasitas penciptaan beragam inovasi dan teknologi yang berdaya saing industri, yang pada akhirnya akan meningkatkan daya saing bangsa Indonesia. Dalam bingkai pikir tersebut, maka HARDIKNAS kali ini kita peringati dengan tema “Ayo Kerja, Inovatif dan Kompetitif”. Tema tersebut merupakan seruan bagi seluruh kalangan pendidikan tinggi dan perguruan tinggi untuk melakukan reformasi pendidikan tinggi, sebagaimana telah dimulai oleh Bapak Pendidikan kita.

Reformasi pendidikan tinggi merupakan suatu keniscayaan pada saat ini, ketika kita menghadapi beragam tantangan luar biasa dalam skala lokal, nasional, maupun global. Melalui pendidikan tinggi, kita mempersiapkan SDM IPTEK yang akan bersaing dalam pasar kerja nasional maupun internasional, serta akan memenuhi beragam tempat kerja. Bagaimana mungkin lulusan kita akan memiliki kompetensi untuk bekerja di dunia abad 21, jika penyelenggaraan pendidikan tinggi kita masih sama seperti abad 19? Juga, kehadiran teknologi informasi komunikasi dan jaringan, serta masyarakat ekonomi berbasis pengetahuan menyebabkan perubahan paradigma penyelenggaraan pendidikan tinggi tidak dapat ditawar lagi.

Ada banyak pekerjaan yang perlu kita lakukan, yang pada dasarnya akan mereformasi penyelenggaraan pendidikan tinggi kita-deregulasi, penyediaan pendidikan yang fleksibel dan berorientasi pada siswa dan pangsa pasar, perubahan kurikulum, penyediaan dosen, guru besar, dan tenaga kependidikan yang profesional, pendidikan yang mengikuti perkembangan ilmu dan teknologi, model bisnis pendidikan yang baru, orientasi pada keterampilan yang teruji dan berdaya saing, pengembangan bidang ilmu strategis, revitalisasi kelembagaan, kemampuan pendidikan tinggi untuk menghasilkan riset dan inovasi yang kompetitif, dan lain-lain. Untuk itu, ayo kita kerja bersama-sama.

Mari kita fokuskan kerja kita dalam reformasi pendidikan tinggi dengan cara-cara inovatif untuk menghasilkan beragam inovasi yang berdaya saing dari pendidikan tinggi kita. Sudah banyak ragam inovasi yang kita hasilkan dan kita banggakan. Pada tahun 2015 menurut World Economic Forum, indeks inovasi Indonesia mencapai 4,6 atau peringkat 30 dunia, sedangkan indeks inovasi pendidikan tinggi adalah 4,0 atau peringkat 60 dunia.

Kita masih perlu bekerja secara inovatif, sehingga kita bisa meningkatkan peringkat indeks inovasi pendidikan tinggi Indonesia di peringkat 56 pada tahun 2020. Indeks ini menunjukkan bahwa masih banyak inovasi dan teknologi yang perlu kita hasilkan untuk memecahkan berbagai masalah dalam kehidupan bangsa Indonesia. Selanjutnya, globalisasi juga telah meningkatkan kompetisi di tingkat institusi, nasional dan internasional.

Pada saat ini, indeks daya saing Indonesia yang diukur dari indikator “higher education and training” menunjukkan bahwa pada tahun 2014-2015 Indonesia menduduki peringkat 60 dengan indeks daya saing 4,5, sementara pada tahun 2015-2016 peringkat Indonesia menjadi 65 dengan indeks daya saing yang sama 4,5. Artinya, ada lebih banyak negara lain yang mencapai indeks daya saing lebih baik dari Indonesia, sehingga peringkat Indonesia menurun. Hal ini tidak boleh kita biarkan begitu saja. Ayo kita kerja secara inovatif dan kompetitif untuk menghasilkan SDM IPTEK terampil serta inovasi dan teknologi yang berdaya saing sebagai tujuan utama pendidikan tinggi kita.

Dalam bingkai daya saing ini, kita tidak bisa menjalankan pendidikan tinggi dengan cara dan kualitas yang telah kita lakukan selama ini untuk menjawab tantangan masa depan. Karena kualitas yang kita capai di hari kemarin sangatlah berbeda dengan kualitas yang harus kita capai di hari esok dalam kecepatan pencapaian yang berbeda pula. Di sisi lain, globalisasi serta era Masyarakat Ekonomi ASEAN membuka jalan bagi kerjasama pendidikan, riset, dan pengembangan teknologi antar institusi perguruan tinggi, lembaga riset, serta industri dalam dan luar negeri.

Kerja sama menjadi salah satu strategi dalam bingkai “competitiveness” untuk mencapai kualitas pendidikan tinggi yang diakui dalam berbagai kalangan secara global. Kerjasama memperkuat kapasitas kita masing-masing menjadi kapasitas yang lebih besar dalam menciptakan inovasi dan teknologi yang lebih baik lagi. Pertukaran mahasiswa dan dosen, kerjasama penelitian dan publikasi ilmiah, sudah seharusnya menjadi bagian dari reformasi pendidikan tinggi kita.

Hadirin sekalian yang berbahagia,

Proses reformasi pendidikan tinggi tidak mungkin dijalankan oleh Pemerintah saja, atau satu pihak saja. Jumlah perguruan tinggi yang mencapai 4438, mahasiswa yang berjumlah lebih dari 7 juta, dan dosen yang berjumlah sekitar 300.000 merupakan kekayaan yang kita miliki. Untuk menjalankan reformasi dalam skala makro seperti itu, dibutuhkan kerjasama antar institusi pendidikan tinggi, institusi riset, berbagai unit pemerintahan lainnya, sektor industri dan swasta, serta pemangku kepentingan lainnya. Dalam bingkai tersebut, saya mengundang berbagai pihak untuk dapat berpartisipasi dan berkontribusi secara nyata dalam proses reformasi pendidikan tinggi kita menjadi pendidikan tinggi yang inovatif dan kompetitif.

Mari kita wujudkan cita-cita pembangunan pendidikan tinggi Indonesia dengan semangat reformasi pendidikan yang digulirkan oleh Bapak Pendidikan Indonesia dan tokoh-tokoh pendidikan lainnya untuk menjalankan beragam upaya peningkatan kualitas pendidikan tinggi kita secara berkelanjutan. Akhirnya, saya ucapkan selamat memperingati Hari Pendidikan Nasional kepada semua pimpinan perguruan tinggi, dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa, serta komunitas pendidikan tinggi di seluruh tanah air. Semoga upaya kita dapat bermanfaat untuk meningkatkan kualitas pendidikan tinggi di tanah air.

Demikian sambutan seragam Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Prof. Mohamad Nasir pada Peringatan Hardiknas 2016 yang dibacakan Bupati Bone.

Pada kesempatan itu Bupati Bone Dr.H.Andi Fahsar Mahdin Padjalangi,M.Si. menyerahkan piala dan piagam penghargaan kepada siswa dan guru berprestasi, serta para pemenang lomba kesenian dan Olahraga. Lagu Mars Wajib Belajar terdengar membahana di Bumi Arung Palakka yang dibawakan kelompok penyanyi dari siswa-siswi SMP, sehingga menambah  semangat juang dalam upaya mewujudkan Bone menjadi Sehat, Cerdas, dan Sejahtera.

Kamis, 08 Oktober 2015

MISI GERAKAN DAKWAH

Kerusakan yang terjadi pada umat Islam sekarang adalah kerusakan yang kompleks dan multidimensional. Kerusakan itu terjadi secara merata baik pada pemimpin, ulama, dan rakyat umum. Kondisi tersebut menjadikan umat Islam memasuki fase sejarah yan genting; terpuruk dalam kepemimpinan dunia, terpecah belah dalam negara-negara kebangsaan, dan gagal membawa misi peradaban di dunia kontemporer.
Karena kerusakan yang terjadi bersifat kompleks dan multidimensional maka perbaikan yang dilakukan tentu tidak boleh dalam bentuk tambal sulam. Perbaikan yang dilakukan tak cukup sekadar merenovasi bangunan umat dan merestorasi kerusakan-kerusakan yang ada. Karena perbaikan yang seperti itu tidak membuat umat Islam sebagai “pasien sakit” sembuh dari penyakitnya.
Melihat kondisi umat Islam yang seperti itu maka tugas dakwah sekarang bukan sekadar memberi nasehat dan peringatan. Tugas penting dakwah kini ada dua hal, pertama, ta’riful islam, yaitu mengajarkan hakikat Islam sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah, dimulai dengan  membangun kembali akidah umat Islam yang menjadi fondasi struktur bangunan umat. Dan kedua, tarbiyyatul ummah, yaitu membina umat, mentakwin kader, menyiapkan ulama dan daiyah agar idealita Islam menjadi nyata dan hidup; umat bisa mewujudkan keyakinan, ucapan, dan perbuatan dalam model kepribadian yang agung; serta social-politik umat merefleksikan kebesaran dan kejayaan Islam.
Jadi, memperbaiki umat Islam adalah sebuah megaproyek. Menurut Imam Hasan Al-Banna megaproyek itu tak mungkin terwujud di dunia realitas kecuali ada kelompok umat yang memiliki empat sifat. Pertama, mereka punya iradah qawiyyah [kemauan hebat] yang tak dihinggapi kelemahan sedikitpun. Kedua, mereka punya wafa` tsabit [kesetiaan kokoh] yang tak dikotori sifat kenifakan, apologi, dan pengkhianatan. Ketiga, mereka punya tadh-hiyah ‘azizah [pengorbanan besar] yang tak bisa dihalangi ketamakan dan kebakhilan. Dan keempat, mereka punya iman bil mabda` [keyakinan pada prinsip] yang akan menjaga dari kesalahan dan penyimpangan serta tertipu dengan isme-isme dan jargon-jargon dari luar Islam.
Keberhasilan Tarbiyah Dan Takwin
Menurut Muhammad Quthub dalam Kaifa Nad’un Naas terdapat tiga komponen penting dalam tarbiyah dan takwin yang sukses. Tanpa hal itu tarbiyah dan takwin tak bisa berhasil dengan baik. Pertama, ‘azhamatul murabbin, yaitu adanya pendidik-pendidik yang agung. Murabbi yang punya kepribadian agung sangat penting dalam tarbiyah dan takwin. Keberadaannya punya pengaruh besar pada diri mutarabbi [orang yang dididik]. Dengan melihat keagungan dan kemuliaan para murabbi maka para mutarabbi akan termotivasi untuk mengikuti dan menirunya bahkan terobsesi untuk menjadi lebih agung dan besar. Di masa lalu ulama-ulama besar, panglima-panglima hebat, dan sulthan-sulthan adil adalah lahir dari proses tarbiyah dan takwin yang dijalankan murabbi-murabbi agung.
Kedua, ‘azhamatul manhaj, yaitu adanya metode tarbiyah Islamiyyah yang hebat. Manhaj tarbiyah Islamiyyah yang paling hebat adalah menhaj tarbiyahnya Rasul saw. Sebab, melalui manhaj yang dijalankannya itu Rasul saw berhasil melahirkan generasi “khairu ummah”; generasi manusia paling baik dan “ummatan wasathan”; generasi pemimpin yang bisa mewujudkan keadilan Islam dan kerahmatannya di muka bumi. Karena itu, keberhasilan tarbiyah dan takwin sekarang ditentukan dengan sejauh mana pengenalan dan pemahaman para murabbi tentang manhaj tersebut. Semakin dalam pengenalan dan pemahaman para murabbi tentang manhaj itu maka potensi keberhasilan mereka dalam  tarbiyah dan takwin akan makin besar.
Dan ketiga, salamatu fithratil mutarabbin, yaitu selamatnya fitrah para mutarabbi dari kerusakan yang ditimbulkan jahiliyah. Jahiliyah disetiap jaman selalu merusak fitrah manusia yang mengakui dimensi Rububiyyah dan Uluhiyyah. Karena itu,para  murabbi harus memiliki pandangan tajam tentang kondisi bahan baku manusia yang ingin ditarbiyah dan ditakwinnya. Ketakmampuannya melakukan seleksi tentu akan menjadi beban tersendiri dalam rencananya untuk mewujudkan megaproyek keumatan yang besar. Keagungan pribadi yang sudah dimiliki dan pengenalan yang baik tentang manhaj tarbiyah kenabian tak dapat menghasilkan mutarabbi-mutarabbi yang punya berbagai keunggulan bila bahan baku manusianya buruk. Bahan baku buruk tersebut dalam terminologi sosiologi disebut “rajusy syari’”. Yaitu manusia yang tak punya pendirian kokoh dan karakter kuat. Pendirian dan sikapnya baik positif dan negatif ditentukan opini dan arahan media massa.
Tak Boleh Isti’jal
Selama tiga belas tahun berdakwah di Makkah jumlah pengikut Rasul saw tak banyak. Apabila dalam Perang Badar yang merupakan perang pertama setelah hijrah gabungan pasukan muslim yang terdiri dari muhajirin dan anshar  sekitar tiga ratus prajurit maka dapat disimpulkan bahwa jumlah shahabat yang beriman selama masa dakwah di Makkah cukup kecil.
Meskipun demikian, Rasul saw tetap fokus menjalankah dakwah, mengajarkan Islam kepada shahabat, dan mentarbiyah mereka agar menjadi rijal dan qiyadah. Dalam rumah Arqam bin Abil Arqam itulah proses ta’riful islam dan tarbiyyatul ummah dijalankan. Rasul saw tak berkecil hati karena jumlah pengikutnya kecil. Rasul saw tak mengendorkan semangatnya karena banyaknya orang yang menentang dakwahnya. Hasilnya luar biasa. Shahabat yang ditarbiyah dan ditakwin di rumah Arqam bin Abil Arqam tak ada satupun yang murtad. Mereka merupakan bagian qa’idah shalabah yang fenomenal dan merubah sejarah dunia.
Gerakan dakwah sekarang justru dihinggapi sikap isti’jal [terburu-buru] dalam semua kondisi baik dalam menanamkan akidah, membentuk akhlaknya, menjalankan tarbiyah dan takwin, meluaskan basis dst. Tak dipungkiri bahwa bertambahnya jumlah pengikut dan meluasnya basis dakwah menjadi keinginan semua daiyah. Tetapi ketika semua itu terjadi secara cepat tanpa melalui proses dan tahapan yang benar dalam dakwah maka akan banyak melahirkan problem dakwah dan gerakan. Sehingga pada akhirnya gerakan dakwah disibukkan oleh problem-problem internal.
Kalau mengkaji sirah nabawiyah kita akan dapatkan bahwa kader dakwah Rasul saw dapat dibagi menjadi tiga kelompok besar.
Pertama, kalangan muhajirin dan anshar. Mereka itulah kelompok yang menjadi fokus tarbiyah dan takwin yang dilakukan Rasul saw selama dua puluh tiga tahun. Sehingga setelah menjadi pribadi-pribadi aagung mereka membantu Rasul saw dalam mentarbiyah “ahlul madinah” [penduduk Madinah] dan “a’rab” [orang-orang arab yang hidup disekitar Madinah]. Dalam kajian dakwah kontemporer mereka diistilahkan dengan “qa’idah shalabah”. Mereka itulah yang kemudian menjadi qiyadah-qiyadah dan murabbi-murabbi umat sepeninggal Rasul saw.
Kedua, ahlul madinah wa man haulahu minal a’rab [penduduk Kota Madinah dan orang-orang yang tinggal disekitarnya]. Mereka merupakan prajurit-prajurit dan penolong-penolong. Mereka menyambut seruan dakwah Rasul saw dan bergabung di dalamnya. Mereka ikhlaskan hati dan mentajnid diri mereka untuk membela Islam dari musuh-musuhnya.  Dan mereka tetap tsabat ketika banyak kabilah-kabilah arab yang murtad dan atau tak mau tunduk kepada Khalifah Abu Bakar dengan mengirimkan zakat. Dalam istilah dakwah kontemporer mereka disebut dengan “qa’idah muwassa’ah”. Meskipun mereka adalah barisan kader lapis kedua tetapi mereka merupakan prajuritpprajurit yang ikhlas, menghibahkan dirinya untuk dakwah dan agama, serta membelanya dengan orientasi ikhlas karena Allah Ta’ala.
Ketiga, para shahabat yang masuk Islam setelah Fathu Makkah. Mereka menjadi bagian dari sahabat dan kader Rasul saw setelah Islam tamkin di muka bumi. Setelah menyaksikan kebenaran nubuwwah Rasul saw mereka beriman secara benar, mentajnid diri mereka, beramal untuk mendapatkan ridha Allah Ta’ala, serta meng-istidrak ketertinggalan mereka dengan menjadi penakluk-penakluk dalam masa kepemimpinan khulafa` rasyidin. Dalam terminology gerakan Islam mereka disebut “qa’idah jamahiriyyah”. Jadi, qa’idah jamahiriyyah bukan “rasjulusy syari’”. Mereka tetap pendukung dakwah yang punya karakter dan kepribadian. Punya tingkat komitmen yang tinggi pada agama. Serta siap memberikan pengorbanan bagi kejayaan Islam.

10 MUWASHOFAT MARHALAH TAMHIDI

A. SALIMUL AQIDAH

1-Tidak meruqyah kecuali dengan Qur’an Ma’tsur;
2-Tidak berhubungan dengan jin;
3-Tidak meminta tolong kepada orang yang berlindung kepada jin;
4-Tidak meramal nasib dengan melihat telapak tangan;
5-Tidak menghadiri majlis dukun dan peramal;
6-Tidak meminta berkah dengan mengusap-usap kuburan;
7-Tidak meminta tolong kepada orang yang telah dikubur (mati);
8-Tidak bersumpah dengan selain Allah swt;
9-Tidak tasyaum (merasa sial karena melihat atau mendengar sesuatu);
10-Mengikhlaskan amal untuk Allah swt;
11-Mengimani rukun iman;
12-Mengimani kenikmatan dan siksa kubur;
13-Mensyukuri nikmat Allah swt saat mendapatkan nikmat;
14-Menjadikan syetan sebagai musuh;
15-Tidak mengikuti langkah-langkah syetan;
16-Menerima dan tunduk secara penuh kepada Allah swt dan tidak bertahkim kepada selain yang diturunkan-Nya

B. SHAHIHUL IBADAH
1-Tidak sungkan adzan;
2-Ihsan dalam Thaharah;
3-Bersemangat untuk shalat berjama’ah;
4-Bersemangat untuk berjama’ah di masjid;
5-Ihsan dalam shalat;
6-Qiyamul-Lail minimal sekali sepekan;
7-Membayar zakat;
8-Berpuasa fardhu;
9-Berpuasa sunnat minimal sehari dalam sebulan;
10-Niat melaksanakan haji,
11-Komitmen dengan adab tilawah;
12-Khusyu’ dalam membaca Al Qur’an;
13-Hafal satu juz Al Qur’an;
14-Komitmen dengan wirid tilawah harian;
15-Berdo’a pada waktu-waktu utama;
16-Menutup hari-harinya dengan bertaubat dan beristighfar;
17-Berniat pada setiap melakukan perbuatan;
18-Menjauhi dosa besar;
19-Merutinkan dzikir pagi hari;
20-Merutinkan dzikir sore hari;
21-Dzikir kepada Allah swt dalam setiap keadaan;
22-Memenuhi nadzar;
23-Menyebar luaskan salam;
24-Menahan anggota tubuh dari segala yang haram;
25-Beri’tikaf pada bulan Ramadhan, jika mungkin;
26-Mempergunakan siwak;
27-Senantiasa menjaga kondisi Thaharah, jika mungkin

C. MATINUL KHULUQ
1-Tidak takabbur;
2-Tidak Imma’ah (asal ikut, tidak punya prinsip);
3-Tidak dusta;
4-Tidak mencaci maki;
5-Tidak mengadu domba;
6-Tidak Ghibah;
7-Tidak mematikan omongan orang lain;
8-Tidak mencibir dengan isyarat apapun;
9-Tidak menghina dan meremehkan orang lain;
10-Tidak menjadikan orang buruk sebagai teman/sahabat;
11-Menyayangi yang kecil;
12-Menghormati yang besar;
13-Memenuhi janji;
14-Birrul Walidain;
15-Menundukkan pandangan;
16-Menyimpan rahasia;
17-Menutupi dosa orang lain;
18-Memiliki ghirah (rasa cemburu) pada keluarganya;
19-Memiliki ghirah (rasa cemburu) pada agamanya

D. QADIRUN ‘ALAL KASBI
1-Menjauhi sumber penghasilan haram;
2-Menjauhi riba;
3-Menjauhi judi dengan segala macamnya;
4-Menjauhi tindak penipuan;
5-Membayar zakat;
6-Menabung, meskipun sedikit;
7-Tidak menunda dalam melaksanakan hak orang lain;
8-Menjaga kepemilikan umum;
9-Menjaga kepemilikan khusus

E. MUTSAQAFUL FIKR
1-Baik dalam membaca dan menulis;
2-Membaca satu juz tafsir Al Qur’an (juz 30);
3-Memperhatikan hukum-hukum tilawah;
4-Menghafalkan hadits 1 s.d 20 Arba’in;
5-Menghafalkan 20 hadits pilihan dari Riyadhush-Shalihin;
6-Mengkaji marhalah Makkiah dan menguasai karakteristinya;
7-Mengenal 10 sahabat yang dijamin masuk surga;
8-Mengetahui hukum Thaharoh;
9-Mengetahui hukum Shalat;
10-Mengetahui hukum Puasa;
11-Membaca sesuatu yang di luar spesialisasinya 4 jam setiap pekan;
12-Memperluas wawasan diri dengan sarana-sarana baru;
13-Menyadari adanya peperangan zionisme terhadap Islam;
14-Mengetahui Ghozwul Fikri;
15-Mengetahui organisasi-organisasi terselubung;
16-Mengetahui bahaya pembatasan kelahiran;
17-Menjadi pendengar yang baik;
18-Mengemukakan pendapatnya;
19-Berpartisipasi dalam kerja-kerja jama’I;
20-Tidak menerima suara-suara miring tentang kita

F. QAWWIYUL JISM
1-Bersih badan;
2-Bersih pakaian;
3-Bersih tempat tinggal;
4-Komitmen dengan adab makan dan minum sesuai dengan sunnah;
5-Tidak berlebihan dalam jaga/begadang;
6-Komitmen dengan olah raga 2 jam setiap pekan;
7-Bangun sebelum fajar;
8-Memperhatikan tata cara baca yang sehat;
9-Mencabut diri dari merokok;
10-Menghindari tempat-tempat kotor dan polusi;
11-Menghindari tempat-tempat bencana (bila masih di luar area)

G. MUJAHID LINAFSIHI
1-Menjauhi segala yang haram;
2-Menjauhi tempat-tempat bermain yang haram;
3-Menjauhi tempat-tempat ma’siat

H. MUNAZHAM FI SYU’UNIHI
1-Memperbaiki penampilannya (performennya);
2-Tidak menjalin hubungan dengan lembaga-lembaga yang menentang Islam

I. HARITSUN ‘ALA WAQTIHI
1-Bangun pagi;
2-Menghabiskan waktu untuk belajar

J. NAFI’UN LIGHAIRIHI
1-Melaksanakan hak kedua orang tua;
2-Ikut berpartisipasi dalam kegembiraan;
3-Membantu yang membutuhkan;
4-Memberi petunjuk orang tersesat;
5-Menikah dengan pasangan yang sesuai